Saturday, March 22, 2014

Praktikum Pengecatan dan Morfologi Bakteri

Posted by Raeri Kim at 4:30 AM


LEMBAR HASIL KERJA

PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI I

Judul Praktikum       : Pengecatan dan Morfologi Bakteri
Nama/NIM               : Wenny Saptalisa/08091004046     
Kelompok                : VII
Asisten                   : Melinda Farianti                            
Tanggal                  : 20 Oktober 2010



   I.      TUJUAN PRAKTIKUM

Tujuan praktikum ini adalah :

            Untuk mempelajari kegunaan pengecatan untuk mempertinggi kontras antara sel dan sekeliling dan mengamati ciri-ciri tertentu mikroba.



II.      LANDASAN TEORI

Melihat dan mengamati bakteri dalam keadaan hidup sangat sulit, karena selain bakteri itu tidak berwarna juga transparan dan sangat kecil. Untuk mengetahui hal tersebut maka dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel bakteri sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah diamati. Oleh karena itu pewarnaan sel bakteri ini merupakan salah satu cara yang paling utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologis.

Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa) sedang zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhan umumnya bersifal alkaline (komponen kromoforiknya bersifat positif). Faktor-faktor yang mempengaruhi pewarnaan bakteri yaitu fiksasi, peluntur warna, substrat intensifikasi, pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup, kemudian dicuci dengan asam encer maka terhapus. Sebaliknya terdapat preparat yang tahan terhadap asam encer. Bakteri-bakteri seperti ini dinamakan bakteri tahan asam dan hal ini merupakan ciri khas bagi suatu spesies tersebut.

Zat warna adalah senyawa kimia yang berupa garam-garam yang salah satu ionnya berwarna. Garam terdiri dari ion-ion bermuatan positif dan ion-ion bermuatan negatif. Senyawa-senyawa kimia ini berfungsi untuk membedakan bakteri karena reaksinya dengan bakteri akan memberi warna yang berbeda. Percobaan ini dilakukan atas dasar pewarnaan bakteri. Sel-sel warna dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu asam dan basa.

Pengecatan negatif mencampurkan sampel bakteri dengan tinta yang disebarkan menjadi lapisan tipis pada gelas objek yang steril. Tinta yang digunakan yaitu cat nigrosin atau tinta cina. Bakteri yang digunakan dalam pengecatan negatif adalah Eschericia coli dan Streptococcus aureus. Pengecatan negatif bukan untuk mewarnai latar belakangnya menjadi hitam dan gelap. Pengecatan negatif dilakukan untuk mengetahui bentuk-bentuk sel yang sesungguhnya serta untuk membedakan bakteri yang hidup dan mati. Berwarna hitam dengan latar belakang yang gelap, karena pewarna-pewarba yang digunakan mempunyai pengaruh yang hidup dan mati.

Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifat-sifat yang khas, begitu pula dengan bakteri tersebut disuspensikan. Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasikan ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan. Hal tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologinya yaitu mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian pengecatan. Berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil, spiral dan sebagainya) dapat dibedakan dengan menggunakan pewarna sederhana. Istilah pewarna sederhana dapat diartikan dalam mewarnai bakteri digunakan satu macam zat warna saja.

Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifat-sifat yang khas, begitu pula dengan bakteri tersebut disuspensikan. Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasikan ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah diamati. Oleh karena itu pewarnaan sel bakteri ini merupakan salah satu cara yang paling utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologis.

Bakteri atau mikroba lainnya dapat dilihat dengan mikroskop tanpa pengecatan yaitu dengan cara khusus (hanging crop), kondensor medan gelap dan sebagainya. Tetapi pengamatan tanpa pengecatan ini lebih sukar dan tidak dapat dipakai untuk melihat bagian-bagian sel dengan teliti, karena sel bakteri atau mikroba lainnya transparan atau semi transparan. Pada pemeriksaan laboratories, pewarnaan sangat membantu untuk memperjelas gambaran specimen yang diperiksa baik morfologi, struktur maupun organel yang dimiliki suatu organisme atau jaringan.

Pewarnaan ini dilakukan dengan menggunakan zat pewarna yang mempunyai kemampuan dalam mewarnai sel organisme dan jaringan sesuai dengan sifat-sifatnya. Secara kimiawi, senyawa yang memberikan warna tersebut disebut chromophore yang bersifat tidak permanent dalam mewarnai sel atau jaringan. Agar sifat memberi warna ini tetap, maka pada zat pewarna tersebut harus mempunyai bagian yang disebut sebagai auxochome. Dengan demikian yang dimaksud zat pewarna adalah suatu senyawa organic kompleks yang mengandung khromophore (pembawa warna) dan auxochrome (radikal pengikat warna).

Pewarnaan yang digunakan pada umumnya berbentuk senyawa kimia khusus yang akan memberikan reaksi jika mengenai bagian tubuhnya, karena pewarna tersebut berbentuk ion yang bermuatan positif atau negatif. Sel bakteri bermuatan mendekati negatif kalau dalam keadaan pH mendekati netral. Sehingga kalau kita memberikan pewarna yang bermuatan positif misalnya metilen biru, maka akan hasil pewarnaan akan nampak jelas. Secara kimia, zat warna dapat digolongkan ke dalam senyawa asam dan senyawa basa. Jika warna terletak pada muatan positif, maka senyawa tersebut dinamakan zat warna basa. Sebaliknya jika warna terdapat pada ion bermuatan negatif, maka senyawa tersebut dinamakan zat warna asam.

Struktur di dalam sel pada tempat-tempat yang dibentuk oleh spesies ini, disebut endospora. Endospora dapat bertahan hidup dalam keadaan kekurangan nutrien, tahan terhadap panas, kekeringan, radiasi UV serta bahan-bahan kimia. Ketahanan tersebut disebabkan oleh adanya selubung spora yang tebal dan keras. Sifat-sifat ini menyebabkan dibutuhkannya perlakuan yang keras untuk mewarnainya. Hanya bila diperlukan panas yang cukup, pewarna yang sesuai dapat menembus endospora. Tetapi sekali pewarna memasuki endospora, sukar untuk dihilangkan. Ukuran dan letak endospora di dalam sel merupakan ciri-ciri yang digunakan untuk membedakan spesies-spesies bakteri yang membentuknya. Pewarnaan yang digunakan pada umumnya berbentuk senyawa kimia khusus yang akan memberikan reaksi jika mengenai bagian tubuhnya, karena pewarna tersebut berbentuk ion yang bermuatan positif atau negatif.


   III.      CARA KERJA

Morfologi Bakteri
  • Pengecatan Gram

Dibersihkan gelas objek dengan alcohol, lalu dipanaskan, diambil secara aseptic satu ose suspense bakteri Bacillus sp. lalu diambil lagi secara aseptic satu ose suspense E. coli dan campurkan dengan satu suspense, dikeringkan, difiksasi diatas nyala api, dibubuhkan cat utama 2 – 3 tetes, didiamkan satu menit, dicuci dengan air mengalir lalu keringkan, ditetesi dengan larutan mordan dicuci dengan air mengalir, dicuci dengan larutan peluntur 30 menit, diberi larutan zat penutup selama dua menit, diamati preaparat dengan mikroskop perbesaran kuat dengan minyak imersi.

  
IV.      HASIL PENGAMATAN

Pengecatan gram




Keterangan

1.      Bakteri           A. E. coli

2.      Cat                 B. S. aureus









                        A           B















     V.      PEMBAHASAN

Bakteri yang digunakan adalah E. coli, bakteri yang biasanya digunakan pada banyak pengamatan yang mengambil judul ”Pengecatan dan Morfologi Bakteri”. Setelah dilakukan pengamatan dengan mikroskop terlihat dua warna pada satu jenis bakteri. Warna yang terbentuk yaitu merah dan ungu. Sedangkan pada teori E. coli merupakan bakteri gram negatif yaitu bakteri yang dayanya mengikat cat utama tidak kuat, sehingga dapat diwarnai oleh cat warna dan berwarna merah. Bakteri gram negatif mempunyai ciri-ciri sebagai berikut yaitu struktur diding tipis, sekitar 10 – 15 ml berlapis tiga atau multilayer. Dinding selnya mengandung lemak lebih banyak (11 – 12%). Peptidoglikan terdapat di dalam dengan jumlah yang sedikit ± 10%.

Bila dibandingkan antara bakteri gram positif dan gram negatif tentu memiliki perbedaan yang jelas apabila dilihat dari mikroskop. Perbedaan dasar antara bakteri gram positif dan balteri gram negatif pada komponen dinding selnya. Bakteri gram positif memiliki membran tunggal yang dilapisi peptidoglikan tipis (permeabilitas tinggi) pada saat pemberian cat kristal violet, bakteri gram negatif luntur dan pada bakteri gram positif tidak.

Bakteri memiliki beberapa sifat-sifat fisik maupun dari sifat koloninya. Menurut Satu sifat penting dari bakteri dengan hubungannya dengan mikrobiologi adalah kemampuan beberapa jenis bakteri untuk memproduksi struktur internal yaitu endospora. Endospora ini umunya terbentuk secara tunggal dalam sel guna menanggulangi keadaan lingkungan yang kurang baik. Spora yang sudah masak dilepas ke alam dan lingkungan sekitarnya. Spora-spora ini dapat dilihat di bawah mikroskop fase kontras dan nampak sebagian yang bercahaya terang baik di dalam ataupun di luar sel.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pengecatan gram yaitu fiksasi panas terhadap suspensi, peluntur warna, dan kecepatan sel pada olesan. Substrat yaitu intensifikasi pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup. Proses fiksasi dilakukan supaya bakteri benar-benar melekat pada kaca objek sehingga bakteri akan terhapus apabila dilakukan pencucian yang perlau diperhatikan dalam proses fiksasi. Fiksasi adalah bidang yang mengandung bakteri dijaga agar tidak kena nyala api. Sedangakn dilakukan fiksasi kemudian ditetesi dengan kristal violet dan dibiarkan kemudian dicuci dengan air yang mengalir dan dibiarkan sampai kering. Pencucian dengan air bertujuan untuk mengurangi zat warna dan violet kristal.

Pengecatan dan morfologi bakteri menggunakan beberapa zat warna yang digunakan dalam mekanismenya. Zat warna adalah senyawa kimia berupa garam-garam yang salah satu ionnya berwarna. Garam terdiri dari ion bermuatan positif dan negatif. Senyawa-senyawa kimia ini berguna untuk membedakan bakteri-bakteri karena reaksinya dengan sel bakteri akan memberikan warna berbeda. Perbedaan inilah yang digunakan sebagai dasar pewarnaan bakteri. Contoh zat warna basa adalah metilen blue, safranin dan netral red. Anion pada umumnya dalah Ce-, SO4, CH3COO-, COOHCOO-.

Pemberian warna pada bakteri atau jasad renik lain dengan menggunakan larutan tunggal suatu pewarna pada lapisan tipis, atau olesan yang sudah difiksasi, dinamakan pewarnaan sederhana. Garam terdiri dari ion bermuatan positif dan negatif. Faktor-faktor yang mempengaruhi pewarnaan bakteri yaitu fiksasi, peluntur warna, substrat, intensifikasi pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup. Suatu preparat yang sudah meresap suatu zat warna, kemudian dicuci dengan asam encer maka semua zat warna terhapus. sebaliknya terdapat juga preparat yang tahan terhadap asam encer. Bakteri-bakteri seperti ini dinamakan bakteri tahan asam, dan hal ini merupakan ciri yang khas bagi suatu spesies.



VI.      KESIMPULAN

Dari praktikum “Pengecatan dan Morfologi Bakteri” yang telah dilaksanakan didapatkan kesimpulan sebagai berikut :

  1.   Eschericia coli pada saat pewarnaan berwarna merah yang berarti bakteri ini merupakan bakteri gram negatif.
  2. Pewarnaan gram dapat mengelompokkan bekteri menjadi dua yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif.
  3. Pada saat melakukan fiksasi, bakteri bakteri tidak diperkenankan terkena nyala api secara langsung.

0 comments:

Post a Comment

About Me

My photo
I'm the one who struggle with my own feeling. I feel like a player now.
 

The World With You Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review