LEMBAR HASIL KERJA
PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI I
Judul Praktikum : Pengecatan dan Morfologi Bakteri
Nama/NIM : Wenny
Saptalisa/08091004046 Kelompok : VII
Asisten : Melinda Farianti
Tanggal : 20 Oktober 2010
I.
TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum ini
adalah :
Untuk
mempelajari kegunaan pengecatan untuk mempertinggi kontras antara sel dan
sekeliling dan mengamati ciri-ciri tertentu mikroba.
II.
LANDASAN TEORI
Melihat dan mengamati
bakteri dalam keadaan hidup sangat sulit, karena selain bakteri itu tidak
berwarna juga transparan dan sangat kecil. Untuk mengetahui hal tersebut maka
dikembangkan suatu teknik pewarnaan sel bakteri sehingga sel dapat terlihat
jelas dan mudah diamati. Oleh karena itu pewarnaan sel bakteri ini merupakan
salah satu cara yang paling utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologis.
Kebanyakan bakteri mudah
bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana karena sitoplasmanya bersifat
basofilik (suka akan basa) sedang zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan
sederhan umumnya bersifal alkaline (komponen kromoforiknya bersifat positif).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pewarnaan bakteri yaitu fiksasi, peluntur
warna, substrat intensifikasi, pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup,
kemudian dicuci dengan asam encer maka terhapus. Sebaliknya terdapat preparat
yang tahan terhadap asam encer. Bakteri-bakteri seperti ini dinamakan bakteri
tahan asam dan hal ini merupakan ciri khas bagi suatu spesies tersebut.
Zat warna adalah senyawa
kimia yang berupa garam-garam yang salah satu ionnya berwarna. Garam terdiri
dari ion-ion bermuatan positif dan ion-ion bermuatan negatif. Senyawa-senyawa
kimia ini berfungsi untuk membedakan bakteri karena reaksinya dengan bakteri
akan memberi warna yang berbeda. Percobaan ini dilakukan atas dasar pewarnaan
bakteri. Sel-sel warna dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu asam dan basa.
Pengecatan negatif
mencampurkan sampel bakteri dengan tinta yang disebarkan menjadi lapisan tipis
pada gelas objek yang steril. Tinta yang digunakan yaitu cat nigrosin atau
tinta cina. Bakteri yang digunakan dalam pengecatan negatif adalah Eschericia coli dan Streptococcus aureus. Pengecatan negatif bukan untuk mewarnai latar
belakangnya menjadi hitam dan gelap. Pengecatan negatif dilakukan untuk
mengetahui bentuk-bentuk sel yang sesungguhnya serta untuk membedakan bakteri
yang hidup dan mati. Berwarna hitam dengan latar belakang yang gelap, karena
pewarna-pewarba yang digunakan mempunyai pengaruh yang hidup dan mati.
Mikroorganisme yang ada di
alam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifat-sifat yang khas, begitu pula
dengan bakteri tersebut disuspensikan. Salah satu cara untuk mengamati bentuk
sel bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasikan ialah dengan metode
pengecatan atau pewarnaan. Hal tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat
fisiologinya yaitu mengetahui reaksi dinding sel bakteri melalui serangkaian
pengecatan. Berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil, spiral dan
sebagainya) dapat dibedakan dengan menggunakan pewarna sederhana. Istilah
pewarna sederhana dapat diartikan dalam mewarnai bakteri digunakan satu macam
zat warna saja.
Mikroorganisme yang ada di
alam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifat-sifat yang khas, begitu pula
dengan bakteri tersebut disuspensikan. Salah satu cara untuk mengamati bentuk
sel bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasikan ialah dengan metode
pengecatan atau pewarnaan sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah diamati.
Oleh karena itu pewarnaan sel bakteri ini merupakan salah satu cara yang paling
utama dalam penelitian-penelitian mikrobiologis.
Bakteri atau mikroba lainnya dapat dilihat dengan
mikroskop tanpa pengecatan yaitu dengan cara khusus (hanging crop), kondensor
medan gelap dan sebagainya. Tetapi pengamatan tanpa pengecatan ini lebih sukar
dan tidak dapat dipakai untuk melihat bagian-bagian sel dengan teliti, karena
sel bakteri atau mikroba lainnya transparan atau semi transparan. Pada
pemeriksaan laboratories, pewarnaan sangat membantu untuk memperjelas gambaran
specimen yang diperiksa baik morfologi, struktur maupun organel yang dimiliki
suatu organisme atau jaringan.
Pewarnaan ini dilakukan dengan menggunakan zat pewarna
yang mempunyai kemampuan dalam mewarnai sel organisme dan jaringan sesuai
dengan sifat-sifatnya. Secara kimiawi, senyawa yang memberikan warna tersebut
disebut chromophore yang bersifat tidak permanent dalam mewarnai sel atau
jaringan. Agar sifat memberi warna ini tetap, maka pada zat pewarna tersebut
harus mempunyai bagian yang disebut sebagai auxochome. Dengan demikian yang
dimaksud zat pewarna adalah suatu senyawa organic kompleks yang mengandung
khromophore (pembawa warna) dan auxochrome (radikal pengikat warna).
Pewarnaan yang digunakan pada umumnya berbentuk senyawa
kimia khusus yang akan memberikan reaksi jika mengenai bagian tubuhnya, karena
pewarna tersebut berbentuk ion yang bermuatan positif atau negatif. Sel bakteri
bermuatan mendekati negatif kalau dalam keadaan pH mendekati netral. Sehingga
kalau kita memberikan pewarna yang bermuatan positif misalnya metilen biru,
maka akan hasil pewarnaan akan nampak jelas. Secara kimia, zat warna dapat
digolongkan ke dalam senyawa asam dan senyawa basa. Jika warna terletak pada
muatan positif, maka senyawa tersebut dinamakan zat warna basa. Sebaliknya jika
warna terdapat pada ion bermuatan negatif, maka senyawa tersebut dinamakan zat
warna asam.
Struktur di dalam sel pada tempat-tempat yang dibentuk
oleh spesies ini, disebut endospora. Endospora dapat bertahan hidup dalam
keadaan kekurangan nutrien, tahan terhadap panas, kekeringan, radiasi UV serta
bahan-bahan kimia. Ketahanan tersebut disebabkan oleh adanya selubung spora
yang tebal dan keras. Sifat-sifat ini menyebabkan dibutuhkannya perlakuan yang
keras untuk mewarnainya. Hanya bila diperlukan panas yang cukup, pewarna yang
sesuai dapat menembus endospora. Tetapi sekali pewarna memasuki endospora,
sukar untuk dihilangkan. Ukuran dan letak endospora di dalam sel merupakan
ciri-ciri yang digunakan untuk membedakan spesies-spesies bakteri yang
membentuknya. Pewarnaan yang digunakan pada umumnya berbentuk senyawa kimia
khusus yang akan memberikan reaksi jika mengenai bagian tubuhnya, karena
pewarna tersebut berbentuk ion yang bermuatan positif atau negatif.
III.
CARA KERJA
Morfologi Bakteri
- Pengecatan Gram
Dibersihkan gelas objek dengan alcohol, lalu dipanaskan,
diambil secara aseptic satu ose suspense bakteri Bacillus sp. lalu diambil lagi secara aseptic satu ose suspense E. coli dan campurkan dengan satu
suspense, dikeringkan, difiksasi diatas nyala api, dibubuhkan cat utama 2 – 3
tetes, didiamkan satu menit, dicuci dengan air mengalir lalu keringkan,
ditetesi dengan larutan mordan dicuci dengan air mengalir, dicuci dengan
larutan peluntur 30 menit, diberi larutan zat penutup selama dua menit, diamati
preaparat dengan mikroskop perbesaran kuat dengan minyak imersi.
IV.
HASIL PENGAMATAN
Pengecatan gram
Keterangan
1. Bakteri A. E. coli
2. Cat B. S. aureus
A B
V.
PEMBAHASAN
Bakteri
yang digunakan adalah E. coli,
bakteri yang biasanya digunakan pada banyak pengamatan yang mengambil judul
”Pengecatan dan Morfologi Bakteri”. Setelah
dilakukan pengamatan dengan mikroskop terlihat dua warna pada satu jenis
bakteri. Warna yang terbentuk yaitu merah dan ungu. Sedangkan pada teori E. coli merupakan bakteri gram negatif
yaitu bakteri yang dayanya mengikat cat utama tidak kuat, sehingga dapat
diwarnai oleh cat warna dan berwarna merah. Bakteri gram negatif mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut yaitu struktur diding tipis, sekitar 10 – 15 ml
berlapis tiga atau multilayer. Dinding selnya mengandung lemak lebih banyak (11
– 12%). Peptidoglikan terdapat di dalam dengan jumlah yang sedikit ± 10%.
Bila dibandingkan antara
bakteri gram positif dan gram negatif tentu memiliki perbedaan yang jelas
apabila dilihat dari mikroskop. Perbedaan dasar
antara bakteri gram positif dan balteri gram negatif pada komponen dinding
selnya. Bakteri gram positif memiliki membran tunggal yang dilapisi
peptidoglikan tipis (permeabilitas tinggi) pada saat pemberian cat kristal
violet, bakteri gram negatif luntur dan pada bakteri gram positif tidak.
Bakteri memiliki beberapa sifat-sifat
fisik maupun dari sifat koloninya. Menurut Satu
sifat penting dari bakteri dengan hubungannya dengan mikrobiologi adalah
kemampuan beberapa jenis bakteri untuk memproduksi struktur internal yaitu
endospora. Endospora ini umunya terbentuk secara tunggal dalam sel guna
menanggulangi keadaan lingkungan yang kurang baik. Spora yang sudah masak
dilepas ke alam dan lingkungan sekitarnya. Spora-spora ini dapat dilihat di
bawah mikroskop fase kontras dan nampak sebagian yang bercahaya terang baik di
dalam ataupun di luar sel.
Terdapat beberapa faktor
yang mempengaruhi pengecatan gram yaitu fiksasi panas terhadap suspensi,
peluntur warna, dan kecepatan sel pada olesan. Substrat yaitu intensifikasi
pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup. Proses
fiksasi dilakukan supaya bakteri benar-benar melekat pada kaca objek sehingga
bakteri akan terhapus apabila dilakukan pencucian yang perlau diperhatikan
dalam proses fiksasi. Fiksasi adalah bidang yang mengandung bakteri dijaga agar
tidak kena nyala api. Sedangakn dilakukan fiksasi kemudian ditetesi dengan
kristal violet dan dibiarkan kemudian dicuci dengan air yang mengalir dan
dibiarkan sampai kering. Pencucian dengan air bertujuan untuk mengurangi zat
warna dan violet kristal.
Pengecatan dan morfologi
bakteri menggunakan beberapa zat warna yang digunakan dalam mekanismenya. Zat warna adalah senyawa kimia berupa
garam-garam yang salah satu ionnya berwarna. Garam terdiri dari ion bermuatan positif
dan negatif. Senyawa-senyawa kimia ini berguna untuk membedakan bakteri-bakteri
karena reaksinya dengan sel bakteri akan memberikan warna berbeda. Perbedaan
inilah yang digunakan sebagai dasar pewarnaan bakteri. Contoh zat warna basa
adalah metilen blue, safranin dan netral red. Anion pada umumnya dalah Ce-,
SO4, CH3COO-, COOHCOO-.
Pemberian warna pada bakteri atau jasad renik lain
dengan menggunakan larutan tunggal suatu pewarna pada lapisan tipis, atau
olesan yang sudah difiksasi, dinamakan pewarnaan sederhana. Garam terdiri dari ion bermuatan
positif dan negatif. Faktor-faktor yang mempengaruhi
pewarnaan bakteri yaitu fiksasi, peluntur warna, substrat, intensifikasi
pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup. Suatu
preparat yang sudah meresap suatu zat warna, kemudian dicuci dengan asam encer
maka semua zat warna terhapus. sebaliknya terdapat juga preparat yang tahan
terhadap asam encer. Bakteri-bakteri seperti ini dinamakan bakteri tahan asam,
dan hal ini merupakan ciri yang khas bagi suatu spesies.
VI.
KESIMPULAN
Dari praktikum “Pengecatan
dan Morfologi Bakteri” yang telah dilaksanakan didapatkan kesimpulan sebagai
berikut :
- Eschericia coli pada saat pewarnaan berwarna merah yang berarti bakteri ini merupakan bakteri gram negatif.
- Pewarnaan gram dapat mengelompokkan bekteri menjadi dua yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif.
- Pada saat melakukan fiksasi, bakteri bakteri tidak diperkenankan terkena nyala api secara langsung.

0 comments:
Post a Comment